Cerita Nyata Sebuah Perjuangan di Sukabumi
Sekitar akhir Desember saya dan rekan pergi ke suatu tempat di Desa Gedepangrango, siang itu saya pergi. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan gunung gede dan hamparan sawah di pinggir jalan ditambah angin yang kian menambah asa . Siang itu saya sampai di tempat tujuan tepatnya di desa Gede Pangrango Kecamatan Kadudampit Kabupaten sukabumi, pergi ke sana dengan tujuan untuk membuat film dokumenter. Setelah shalat dan merasakan dinginnya air wudlu di sana, kami langsung masuk ke sebuah rumah di samping masjid itu.
"Jaman penjajahan" adalah tema yang saya ambil untuk film dokumenter tersebut dengan saksi sejarah nenek saya sendiri :D berbekal kamera digital dan tanpa persiapan pertanyaan. Saya dan nenek hanya berbincang layaknya cucu dan nenek-nya, obrolan itu pun saya belokan ke perbincangan mengenai zaman penjajahan, kamera pun hanya saya biarkan tergeletak di atas kursi. Rekan saya hanya mendengarkan dan sesekali tertawa mengenai obrolan saya dan nenek.
Zaman penjajahan memanglah sulit itu yang dikatakan nenek saya pertama kali dalam perbinangan tersebut, pada saat itu masyarakat memakai pakaian berbahan karung, tanpa terkecuali pegawai Belanda,. Kadudampit adalah daerah yang cukup tinggi di daerah Sukabumi karena alasan itu para penjajah senang di tempat ini, mereka bisa berkebun, katanya dahulu berdiru pabrik teh di daerah Cinumpang. Setiap hari mereka memproduksi teh.
Ada cerita yang membuat saya bingung Pada zaman Jepang, masyarakat di desa tersebut diperintah untuk membuat sebuah lobang di depan rumah mereka tanpa diberitahu untuk apa lobang tersebut, mungkin agar orang tersebut jatuh di lobang itu, itu adalah taktik mereka dan terbukti ada korban yang jatuh. Masyarakat juga selalu diperintah untuk mematikan lampu di rumah masing-masing, karena pada saat masyarakat mematikan lampu mereka mengangkat barang-barang hasil alam.
Pada zaman itu ada yang dinamakan dengan pesta raja, dimana masyarakat membuat sebuah hiasan atau pernak-pernik mungkin seperti karnafal, kemudian dinilai oleh para penjajah.Islamic Center yang ada di Cisaat, ternyata dulu adalah pasar Cisaat yang sekarang sudah jadi pasar semi modern. Tiap jepang berkelayangan di desa ini mereka mencari apa yang ada semisal ada ayam atau hanya telurnya saja mereka akan ambil.
Saya pernah mendengar dari guru sejarah pada zaman itu untuk sekolah pun cukup sulit, ya begitulah kenyataannya. Walaupun sulit hidup pada zaman itu tapi pembangunan di desa ini tetap berjalan, dengan gotong royong dan semangat persatuan mereka membangun bersama rumah warga, membuat masjid, dan bahkan membanguan sekolah. Sampai saat ini bangunan tersebut masih berdiri kokoh.



Comments
Post a Comment